Kenapa Kerusuhan Mei 1998 Dipicu Dari Jatuhnya Baht Thailand?
Kerusuhan Mei 1998 merupakan sejarah pilu dan sangat kelam yang dialami oleh bangsa kita, bangsa Indonesia. Namun ternyata, pemicu awalnya bukan berasal dari Indonesia sendiri, melainkan dari peristiwa jatuhnya nilai Baht Thailand terhadap dolar AS (2 Juli 1997) yang disebabkan oleh aksi short selling Soros dkk (saya tidak akan membahas secara detail terkait aksi Soros ini).
Kerusuhan Mei 1998 memang pada dasarnya disebabkan oleh gabungan berbagai variabel yang saling terhubung satu sama lain. Namun, jika kita harus memilih satu sebagai pemantik, maka tidak akan salah menyebut jatuhnya Baht Thailand sebagai pemicu awal, sebab peristiwa tersebut membuat pasar Asia Tenggara panik, banyak investor global yang menarik uangnya dari wilayah Asia Tenggara.
Referensi: Arsip Publikasi IMF: "The Asian Crisis: Causes and Cures" (Juni 1998)
Larinya para investor tersebut, membuat contagion effect (efek penularan) yang pada akhirnya juga memberi pukulan pada nilai Rupiah. Pada periode pertengahan Juli 1997 - awal januari 1998, Rupiah terus melemah terhadap dolar AS, sedangkan pada saat itu banyak perusahaan penggerak ekonomi di Indonesia (dimonopoli oleh perusahaan milik Soeharto dan kroni-kroninya) yang memiliki utang luar negeri dalam dolar AS.
Dalam waktu singkat tersebut, utang perusahaan penggerak ekonomi tadi melambung sangat tinggi, menyebabkan beberapa perusahaan mengalami pailit. Puncaknya, pada 15 Januari 1998, Presiden Soeharto terpaksa menandatangani Letter of Intent (LoI) paket penyelamatan ekonomi dari IMF karena kas negara sudah kosong dengan syarat yang sangat berat, diantaranya mengharukan pencabutan subsidi dan likuidasi perbankan.
Dalam arti lain, IMF meminta Soeharto untuk meleburkan pilar ekonomi Orde Baru: Membubarkan monopoli bisnis keluarganya, termasuk monopoli cengkeh (oleh Tommy Soeharto), proyek Mobil Nasional (Timor), dan hak-hak istimewa kroni keluarga cendana lainnya.
Lalu pada 4 Mei 1998, atas desakan IMF terkait perjanjian utang yang sudah ditandatangani, pemerintah Indonesia saat itu menaikkan harga BBM dan tarif listrik hingga 71%. Keputusan ini menyebabkan protes dan gelombang demonstrasi oleh mahasiswa di berbagai kota besar di Indonesia. Kenaikan hingga 71% tersebut membuat ekonomi masyarakat sangat terhimpit.
Dalam aksi protes dan demo yang terus terjadi, kita mengingat tragedi yang terjadi pada 12 Mei 1998, yaitu Tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti (Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hertanto, dan Hendriawan Sie) meninggal tertembak peluru aparat saat melakukan demonstrasi.
Referensi: Arsip Resmi IMF: "Indonesia - Memorandum of Economic and Financial Policies" (15 Jan 1998)
Referensi: Arsip Sejarah Kompas: "4 Mei 1998, Harga BBM Naik Picu Kerusuhan"
Referensi: Arsip Komnas HAM RI: "Peristiwa Trisakti, Semanggi I dan II"
Tragedi tersebut meledakkan amarah publik, akhirnya dari berbagai akumulasi peristiwa dan kondisi politik, terjadilah tragedi lain yaitu kerusuhan massal pada 13-15 Mei 1998 yang kita semua ingat sebagai tragedi memilukan dan sangat tragis. Kota seperti Jakarta, Solo, dan beberapa kota besar lainnya lumpuh oleh kerusuhan, penjarahan, pembakaran, dan kekerasan seksual (yang khususnya menargetkan warga etnis Tionghoa).
Untuk tragedi kerusuhan 13-15 Mei 1998 ini, saya akan menulisnya dalam tulisan khusus lain, sebab pada peristiwa ini terdapat banyak variabel yang harus ditulis secara lebih rinci seperti terkait kondisi ekonomi, adanya dua faksi di militer (coba tebak dua faksi ini diwakili oleh siapa), taktik intelijen tingkat tinggi, dan berubahnya kondisi perpolitikan di Indonesia.
Selain itu, dalam tulisan tersebut rencananya saya juga akan membahas mengapa pola kerusuhan pada tiap titik itu sangat mirip, ciri-ciri provokatornya juga persis, dan alasan mengapa etnis Tionghoa menjadi target khusus (sesuai hasil laporan dari Tim Gabungan Pencari Fakta).
Referensi: Dokumentasi Komnas HAM: "Menolak Lupa Tragedi Mei 1998"
Nah, setelah kita melihat timeline nya secara garis besar, pemicu awal atau pemantik pertama terjadinya kerusuhan Mei 1998 adalah karena jatuhnya nilai Baht Thailand, yang menyebabkan ikut terjatuhnya nilai Rupiah akibat banyak investor global menarik modalnya dari wilayah Asia Tenggara. Jatuhnya nilai Rupiah tersebut membuat krisis ekonomi dibarengi dengan berbagai akumulasi peristiwa dan kondisi politik saat itu yang pada perjalanannya mengakibatkan berbagai tragedi di Mei 1998.