Pembangunan Sira Village Memiliki Dampak Negatif Yang Lebih Tinggi Daripada Dampak Positif?
Pembangunan Sira Village mungkin memiliki efek positif pada pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, namun kalau kita coba lihat trade-off yang harus diterima sebagai ganti pertumbuhan tersebut, ternyata menghasilkan efek negatif yang jauh lebih tinggi dalam jangka panjang.
Kalau kita ingin menimbang mana yang lebih tinggi efek positif atau negatif dari pembangunan Sira Village, kita harus memakai indikator dari sisi ekonomi, sosial-budaya, hukum, dan lingkungan.
Kemudian, kita bandingkan antara efek positif & negatif yang dihasilkan, dengan membandingkan, kita akan bisa melihat apakah sisi positif bisa menutupi sisi negatif yang dihasilkan, atau malah sebaliknya, sisi negatif yang ternyata bisa menelan sisi positif nya.
Kita akan lihat, apakah pertumbuhan ekonomi bisa memisahkan diri dari isu sosial (keadilan sosial) dan ekologi (lingkungan)?
Saya akan memakai referensi dari artikel dan jurnal akademis berikut: scholarhub.ui.ac.id dan atlantis-press.com.
Secara praktis, kita bisa ketahui bahwa jika sebuah investasi atau pembangunan mengabaikan "izin sosial" atau Social License to Operate dari masyarakat, yang timbul bukanlah kestabilan, melainkan:
1. Rasa asing di tanah sendiri.
Masyarakat akan merasa aspirasi, hak atas ruang, dan masa depan lingkungan mereka tidak dihargai.
Kekecewaan akan timbul secara masif & dalam jumlah yang cenderung akan terus bertambah.
2. Resistensi yang pasif bahkan aktif.
Kekecewaan tersebut akan menjadi bom waktu, tindakan-tindakan seperti boikot, gugatan hukum, sampai konflik horizontal akan sulit dihindari.
Kerugian ekonomi akibat hal ini, jauh lebih tinggi dari pada efek positif pertumbuhan jangka pendek nya.
Sedangkan dari sisi ekologisnya, dampaknya bahkan lebih tidak main-main.
1. Bisa terjadi krisis air bersih.
Pusat komersial besar seperti Sira Village membutuhkan pasokan air bersih yang tidak sedikit, hal ini berisiko menyedot air tanah dan memicu intrusi air laut ke sumur-sumur warga.
2. Beban sampah dan limbah.
Sira Village, akan menghasilkan limbah domestik dan sampah padat dalam jumlah sangat besar, yang jika tidak dikelola secara mandiri dan sempurna akan mencemari perairan sekitarnya.
3. Terancamnya bentang alami pesisir.
Terganggunya ekosistem pelindung alami di daerah pesisir dapat menyebabkan lebih luasnya efek abrasi, gelombang tinggi, dan ancaman tsunami.
Tanpa benteng alami yang baik, keselamatan fisik kawasan pesisir dalam jangka panjang menjadi taruhannya.
Oleh karena itu, kita dapat simpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa mengabaikan sisi keadilan sosial dan ekologi. Memaksa pembangunan dengan mengabaikan suara masyarakat dan mengorbankan kelestarian alami pesisir pada akhirnya hanya menciptakan pertumbuhan yang semu dan rapuh.
Hasil pertumbuhan dan keuntungan finansial hanya dinikmati sebagian kecil pihak, sementara beban risiko ekologis dan keretakan sosial ditanggung oleh masyarakat dalam jangka panjang.